Sabtu, 12 April 2014

Senang bisa menjumpai anda kembali dan kali ini saya akan sharing dengan tema:

"Needs vs Wants" (Gengsi dan Gaya Hidup)

Salah satu kanker mematikan (baca: bunuh diri) adalah gengsi dan gaya hidup, yang melampaui kemampuan ekonomi.

Sering kali bila anda wisata ke Mall, akan tampak wajah-wajah sumringah dan ceria yang bertengger di cafe-cafe exclusive. Mereka terlihat "mentereng" walau tinggal di ujung menteng atau di kedalaman menteng (baca: menteng dalam).

Atau kala anda seminar di hotel berbintang, mungkin anda akan mendapati  beberapa wajah menor dan walau suara bukan temor di sudut lounge atau cafe-nya.

Sungguh  sebuah pekerjaan yang sulit untuk memisahkan atau membedakan needs dari wants, bila itu terkait diri sendiri.
Lain cerita, bila diri kita yang menilai needs dan wants orang lain.

Sering kita tidak adil dan tidak jujur dalam menilai, terlebih bila menyangkut diri sendiri.

Contoh jelas yang ingin saya sampaikan:
  • minum kopi mungkin kebutuhan, tapi minum kopi di startrek itu keinginan
  • makan adalah kebutuhan, tapi makan mewah di hotel atau resto bintang kecil, itu keinginan
  • beli sepatu atau alas kaki itu kebutuhan, tapi beli sepatu "Raul" atau "Bally" itu keinginan.
  • Beli tas buat angkat barang itu kebutuhan, tapi beli Louis Vuitton itu keinginan (apalagi seri LV dari yang terkecil sampai gerobak LV)
 Wants, Gengsi, Ego dan Gaya Hidup adalah "musuh" dalam selimut yang sering kita pelihara dalam sudut hati. Hati-hati !!!

Memang musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri!

Siapa yang dapat mengalahkan diri sendiri, dia akan mudah menaklukkan dunia. Berhati-hatilah "hantu lapar" yang bercokol dalam diri kita, kecilkan suaranya dan jangan beri ruang atas kehadirannya!


0 komentar: